Beras OP Tak Terserap Maksimal

29 Juli 2010

pasar-berasBeras jenis medium yang digelontorkan Perum Bulog Divisi Regional Jambi melalui operasi pasar tidak terserap maksimal. Pada operasi yang berlangsung sepekan terakhir, baru sekitar 750 kilogram beras yang terserap.

OP kali ini memang agak sepi.

Volume beras OP yang terserap rata-rata hanya 150 kilogram per hari. Padahal, operasi dilaksanakan pada banyak pasar tradisional, seperti Pasar Angso Duo, Pasar Talang Banjar, Pasar TAC, dan Pasar Keluarga. “OP kali ini memang agak sepi,” ujar Damin Hartono, Kepala Bidang Pelayanan Publik Bulog Jambi, Kamis (29/7/2010).

Lemahnya daya serap atas beras OP, diduga karena harga yang ditawarkan Bulog kurang kompetitif. Bulog melepas beras jenis IR64 dengan kadar pecahan (broker) 20 persen pada harga Rp 6.500. Padahal, beras dengan kualitas serupa dihargai hanya sekitar Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per kilogram.

Menurut Damin, penetapan harga OP disesuaikan atas penilaian Badan Pusat Statistik bahwa harga eceran tertinggi (HET) beras IR-64 sebesar Rp 7.000. Berdasarkan instruksi Departemen Perdagangan, beras untuk operasi pasar dijual selisih lebih murah Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram dari HET. Ketika harga beras OP relatif lebih mahal dari harga pasar, pihaknya mengaku tidak dapat menetapkan harga OP lebih rendah lagi. “Harga ini sudah sesuai aturan. Kalau kami turunkan lagi, malah melanggar,” katanya.

Damin memperkirakan, ketentuan harga beras IR 64 sebesar Rp 7.000 adalah untuk kualitas terbaik, yaitu beras baru panen dengan kadar broken 5 persen saja. Sedangkan, beras Bulog berkadar broken 20 persen dan telah disimpan dalam gudang selama sekitar tiga bulan, sehingga semestinya memang lebih murah lagi.

Damin melanjutkan, meski serapan beras OP kurag signifikan, harga beras di pasaran tidak lagi menunjukkan kenaikan. Berdasarkan pantauan, harga beras kualitas premium seperti Belida berkisar Rp 7.500 per kg, dan King Rp 7.000 per kg. Sebelumnya, Belida sempat mencapai Rp 8.000 per kg.

Operasi pasar, tambah Damin, masih akan terus dilaksanakan sampai harga beras di pasaran stabil. Selain itu, pihaknya juga telah mengirimkan surat ke Asisten II Sekda di Provinsi maupun Kabupaten dan Kota, agar menyiapkan tim pelaksana OP.

Menurut dia, tim inilah yang akan menentukan jadwal pelaksanaan dan tempat kegiatan. Tim juga akan menentukan harga operasi pasar. Nantinya pelaksana OP akan membeli beras ke Bulog dengan harga Rp 5.730 per kg. Harga OP sendiri bergantung penentuan harga eceran tertinggi. Pemerintah menjual harga OP Rp 400 hingga Rp 500 lebih murah dari HET.

Sementara itu, sejumlah sentra pertanian di Jambi mulai memasuki masa panen. Di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, panen telah berlangsung hampir sepekan terakhir. Harga beras di tingkat petani cukup tinggi, mencapai Rp 6.000 per kilogram.

Nurul, petani setempat, mengatakan sebagian hasil panen dijual ke tengkulak, namun sebagian lainnya dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. “Berasnya sebagian kami simpan buat stok. Jangan sampai kami membeli lagi, karena harga beras di pasar naik terus,” ujarnya.

(sumber: kompas.com)

Tuliskan Komentar Anda

Filled Under: Ekonomi
Banner
Koran Banten
Krakatau Stell
Speedy